Guyub Rukun Pedagang Foodcourt Denggung: Dari Kas Tombokan sampai Jaga Kebersihan Lewat Denda Sepakat
(SLEMAN) — Menjaga kekompakan di tengah persaingan usaha bukan perkara mudah. Namun, hal itu dibuktikan oleh para pedagang di kawasan Kuliner Foodcourt Denggung, Sleman. Lewat wadah paguyuban, puluhan pedagang di sini menunjukkan bahwa rasa kekeluargaan dan gotong royong bisa berjalan iringan dengan urusan mencari rezeki.
Di ketuai Tri Maryadi, paguyuban ini tidak hanya sibuk mengurus dinamika perkeliruan lapak, tetapi juga menjelma jadi ruang saling bantu antar-sesama penjual.
"Prinsipnya kami di sini saling jaga dan saling bantu. Paguyuban ini sifatnya menjembatani pedagang dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, baik untuk meneruskan arahan dinas maupun bantu penarikan retribusi resmi. Yang penting lingkungan kondusif dan tertib," kata Tri saat berbincang di lokasi.
Solidaritas Tanpa Hitung-hitungan
Rasa empati antar-pedagang begitu terasa ketika ada anggota yang tertimpa musibah atau jatuh sakit. Setiap bulannya, pedagang menyisihkan dana sosial sebesar Rp10.000. Seluruh uang yang terkumpul murni diputar kembali untuk menjenguk anggota yang sakit atau menyerahkan santunan duka.
Uniknya, sumber kas operasional paguyuban terbilang sangat terbatas. Pengurus hanya mengandalkan sisa pengelolaan operasional listrik dan biaya kebersihan sampah harian. Tak jarang, kas paguyuban justru "tombok" alias ditalangi pengurus ketika angka anggota yang sakit sedang tinggi.
"Uang sosial sepuluh ribu itu murni dari anggota untuk anggota. Kadang kalau yang sakit lagi banyak dan dananya kurang, ya ditalangi pakai kas paguyuban. Nggak ada hitung-hitungan, yang penting saudara sesama pedagang terbantu," tutur Tri.
Bagi para penjual kuliner, kebersihan adalah kunci utama untuk mengundang pembeli. Karena itu, aksi kerja bakti pembersihan selokan, meja makan, dan selasar foodcourt rutin digelar.
Menariknya, ada aturan unik terkait keberlangsungan kerja bakti ini. Anggota yang absen tanpa alasan jelas bakal dikenakan denda Rp100.000. Bukannya memicu konflik, aturan tegas ini justru didukung penuh oleh seluruh pedagang.
"Soal denda Rp100 ribu itu jangan disalahartikan. Itu bukan buat cari uang atau memberatkan, tapi murni kesepakatan bersama waktu rapat. Biar semua punya rasa memiliki dan tanggung jawab yang sama. Kalau tempatnya bersih kan pembeli makin ramai, yang untung kita juga," tegas Tri.
Rutinitas jualan dari pagi hingga malam tentu memicu rasa lelah. Untuk mencairkan ketegangan dan mempererat tali silaturahmi, paguyuban konsisten menggelar agenda piknik bersama setahun sekali.
Lewat rekreasi singkat ini, para pedagang beserta keluarganya bisa sejenak melepas penat dan membangun rasa keakraban yang lebih hangat di luar urusan dagang.
Lewat kesederhanaan, transparansi pengelolaan kas, dan ketegasan aturan yang disepakati bersama, Paguyuban Pedagang Foodcourt Denggung membuktikan bahwa solidaritas warga adalah modal utama menciptakan kawasan usaha yang sehat dan harmonis. (Rsi)
0 Comment