post image

Menguak Luka Masa Lalu yang Membentuk Karakter, Penulis Rini Hastuti Bedah Buku "Cerminku Retak Seribu" di Klaten

  • Administrator
  • 08 Nov 2026
  • News

(KLATEN, Jawa Tengah)— Setiap orang menyimpan cerita, sebagian menjadi kenangan manis, namun tidak sedikit pula yang menjelma sebagai luka tersembunyi. Luka masa lalu kerap kali tanpa sadar membentuk sikap, kebiasaan, hingga cara seseorang memperlakukan orang lain di masa kini. Persoalan inilah yang dikupas tuntas dalam buku berjudul Cerminku Retak Seribu: tentang luka, kehilangan dan manusia-manusia yang belajar berdamai karya penulis Rini Hastuti.
​
Buku yang memuat 35 cerita ini mengajak pembaca menyelami berbagai dinamika kehidupan manusia; mulai dari relasi yang melukai, pengkhianatan, persoalan kepercayaan, dinamika keluarga dan persahabatan, hingga pergulatan batin dalam memahami diri sendiri.
​
Dalam buku terbarunya ini, Rini menyoroti bagaimana apa yang tampak sebagai karakter seseorang—seperti sulit percaya, selalu ingin mengendalikan keadaan, gemar mengalah, hingga takut ditinggalkan—terkadang merupakan mekanisme pertahanan diri dari luka masa lalu yang belum pulih.
​"Hampir semua orang membawa retaknya masing-masing. Tidak banyak yang berani menceritakannya," ungkap Rini Hastuti, menggambarkan pesan utama dari karyanya.

​Melalui buku ini, pembaca diajak untuk berhenti sejenak dan bercermin: apakah reaksi yang ditunjukkan hari ini murni karena kejadian sekarang, atau ada pengalaman lama yang ikut berbicara?

​Cerminku Retak Seribu dinilai relevan bagi pembaca yang ingin memahami pola hubungan personal yang kerap berulang, mendalami dampak masa lalu terhadap kehidupan saat ini, serta belajar berdamai dengan pengalaman yang tak bisa diubah.
​
Selain dikenal sebagai penulis dengan pengalaman lebih dari empat dekade serta mantan kolumnis Radar Cirebon, Rini Hastuti juga merupakan praktisi perencanaan keuangan bersertifikasi (CFP dan WPS). Karya-karyanya terdahulu meliputi Laundry Hati, The Worrier’s Guide Book, dan The Quiet Miracle.
​
Buku ini diharapkan dapat menjadi
teman refleksi bagi siapa saja yang ingin melihat sisi manusia yang kerap tersembunyi di balik penampilan "baik-baik saja".

Praktisi perencanaan keuangan resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul "Cerminku Retak Seribu" di Galeri Toko Buku Jendela, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (7/11) siang.
​Acara peluncuran yang dirangkai dengan bincang buku (book talk) ini sukses menarik antusiasme tinggi dari puluhan warga dan pencinta buku di wilayah Klaten.
​
Penulis buku tersebut mengungkapkan bahwa karya terbarunya ini diangkat sepenuhnya dari kisah nyata seseorang yang identitasnya disamarkan atas izin yang bersangkutan. Buku ini memotret perjalanan seseorang yang kerap merasa minder hingga mengalami overthinking.
​
"Jadi buku ini murni cerita kisah nyata dari salah seorang, yang namanya saya samarkan, dan sudah seijin dari yang bersangkutan, bahwa, bagaimana saya menemukan diri saya, retak saya, yang menjadi minder, overthinking, yang menjadi saya ibaratkan pada cermin yang retak," jelas sang penulis.
​
Buku setebal 233 halaman ini terbagi ke dalam enam tema utama, termasuk pembahasan mengenai tekanan di dunia kerja dan pergulatan batin yang kerap tak bersuara. Meski memiliki latar belakang sebagai praktisi perencanaan keuangan, penulis mengaku berhasil merampungkan naskah buku ini secara intensif hanya dalam waktu lima hari.
​
"Saya mengide buku ini sejak tahun 2016. Ketika saya bertemu teman dan mengambil intisari cerita itu, saya jadi menulis buku ini selama 5 hari saja, dengan tidak keluar rumah," imbuhnya.
​Ia berharap kehadiran buku ini dapat menjadi sumber inspirasi serta motivasi bagi masyarakat luas, sekaligus pengingat bahwa setiap individu tidak pernah sendirian dalam menghadapi masalah hidup.
​
"Adanya buku ini, membuat inspirasi bagi seluruh warga, masyarakat semua, bahwa ketika kamu retak, kamu luka, kamu ternyata tidak sendiri. Nah, dari situ kamu belajar bahwa ada orang lain juga pernah mengalami luka seperti itu, ada masalah seperti itu juga," ujarnya.
​
Ia juga berpesan agar masyarakat tidak memendam masalah seorang diri. Jika beban terasa terlalu berat, ia menyarankan agar segera berkonsultasi kepada pihak yang profesional seperti psikolog atau dokter agar mendapatkan jalan keluar yang tepat.
​"Jika kamu tidak bisa menghadapi, maka kamu wajib mencari praktisi, pakar, dan sebagainya untuk menyelesaikan masalah tersebut," tuturnya.
​
Sebagai informasi, "Cerminku Retak Seribu" menambah daftar panjang karya tulis yang telah dihasilkan selama pengalaman menulisnya yang telah berjalan lebih dari empat dekade. Sejumlah buku karyanya yang terdahulu meliputi Laundry Hati, The Worrier’s Guide Book, dan The Quiet Miracle.

​Acara bedah buku ini mendapat sambutan hangat dari para peserta yang hadir. Salah seorang warga asal Yogyakarta, Ericko atau yang akrab disapa Yayuk, mengaku sangat terkesan dan terinspirasi setelah mengikuti jalannya acara.
​" Rini menulis dengan hati, ia juga menceritakan dengan pikiran dan kebesaran hatinya. Buku yang diluncurkan dengan tema Cerminku Retak Seribu sangat menginspirasi bagi warga masyarakat, karena apa, mirip dengan yang dialami oleh teman-teman di lingkungan kita semua," ungkap Ericko

​Menurutnya, setiap orang pasti pernah menemui titik krusial dan masalah dalam hidupnya. Namun, pesan utama dari buku ini mengajarkan pembaca untuk tetap teguh dan berkomitmen bangkit dari keterpurukan.
​
"Jika buku ini dibaca, kita semua itu berfikir, kita semua punya luka, tapi kita semua tidak harus fokus pada luka kita. Seperti yang dikatakan Mbak Rini, cermin boleh retak, tapi kita harus teguh, dan itu sebuah komitmen," ujarnya.
​
Senada dengan hal tersebut, Hasna Alfiani Fadilah selaku Pakar Psikologi RSIA Aisyiyah Klaten yang turut hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut memberikan dukungan penuh terhadap peluncuran buku ini.
​"Dengan adanya peluncuran buku Cerminku Retak Seribu ini, diharapkan para warga yang membaca dapat memahami dan menyadari bahwa dirinya tidak sendiri, ada orang lain yang juga menghadapi masalah," pungkasnya. (Rsi) 

0 Comment