Pameran Lukis Bertema Pitutur Jawa, Sebagian Hasil Pameran Untuk Donasi Seniman, Karhutla hingga Bencana Alam di Indonesia
(Yogyakarta) – Gelaran seni bernuansa filosofi mendalam siap menyapa publik Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan seni dan kemanusiaan bertajuk Loman Art & Humanity Movement bakal menggelar pameran lukisan bertema Pitutur Jawa yang bertempat di Hotel Loman Yogyakarta pada 16 Desember 2026 mendatang. Pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan estetika visual semata, tetapi juga mengangkat pesan moral spiritual khas kebudayaan Jawa yang adiluhung, salah satunya melalui peluncuran mahakarya bernilai fantastis. Salah satu daya tarik utama dalam pameran ini adalah dipamerkannya lukisan mahakarya luar biasa karya perupa Artha Pararta Dharma yang diberi judul "Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu". Lukisan ikonik ini ditawarkan dengan nilai investasi karya seni dan kemanusiaan bernilai fantastis, yakni Rp7.770.000.000 (Tujuh Miliar Tujuh Ratus Tujuh Puluh Juta Rupiah). Melalui tajuk "777: Warisan Berkat yang Berlipat Ganda", pameran ini mengusung misi luhur yang memadukan kasih sayang, kedermawanan, serta doa. Penyelenggara percaya bahwa setiap kebaikan yang disalurkan melalui apresiasi seni ini akan kembali kepada para dermawan sebagai bentuk berkat yang melimpah dan tak terhitung jumlahnya. Menurut salah satu sesepuh seniman, Romo Artha, sebagian hasil penjualan akan digunakan untuk donasi kemanusiaan bagi warga yang terdampak bencana alam seperti untuk dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), bencana banjir hingga gempa bumi di sejumlah lokasi terdampak, serta kegiatan sosial lainnnya. "Ya, nantinya ke depan, sebagian hasil dari pameran ini kita juga berbagi kepada sesama yang membutuhkan, juga penggalangan donasi kemanusiaan bagi korban karhutla, serta bencana alam lainnya yang tengah melanda dan berdampak bagi masyarakat di tanah air" jelas Romo Artha. Selain itu, sebagian dari hasil penjualan mahakarya luar biasa ini akan didedikasikan untuk mendukung pengembangan dan kebutuhan esensial semiman di Kampung Seniman Donotirto, sebuah komunitas budaya yang dirancang untuk membina 107 seniman dan tumbuh bersama 220 warga setempat di atas lahan seluas 8,7 hektare. "Kontribusi ini akan membantu menciptakan peluang, mendukung pengembangan komunitas, memupuk kreativitas seni, serta melestarikan warisan budaya sebagai jejak nyata bagi generasi mendatang," jelas Romo Artha. Selain tema penghormatan kepada sosok Ibu, pameran lukisan Pitutur Jawa ini berakar kuat pada nilai kebudayaan lokal, khususnya ajaran filosofis Sangkan Paraning Dumadi (Asal Mula dan Tujuan Kehidupan). Filosofi ini mengajarkan bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan tentang dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali, melainkan tentang bagaimana manusia memaknai setiap langkah di antaranya. Kesadaran akan asal dan tujuan hidup tersebut diharapkan mampu membentuk kerendahan hati, kebijaksanaan, serta rasa tanggung jawab moral dalam menjalani kehidupan sehari-hari. "Manusia yang hadir dari Sang Pencipta diajak menjalani perjalanan hidup dengan segala dinamikanya, untuk pada akhirnya kembali kepada-Nya. Melalui deretan lukisan Pitutur Jawa yang dipamerkan, pengunjung diajak berkontemplasi untuk mengenali jati diri, memahami makna keberadaan, serta menemukan tujuan sejati dari kehidupan," jelas Romo Artha. Pameran seni ini yang rencananya akan dibuka langsung oleh putri Sultan HB X, yakni Gusti Bendoro tersebut terbuka bagi para pencinta seni, kolektor, hingga masyarakat umum yang ingin menyelami kedalaman filosofi kebudayaan Jawa sekaligus berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan di Kota Gudeg. (Rsi)
0 Comment