Pertama di Indonesia! STIKES Bethesda Yakkum Luncurkan ‘Sekolah Stroke’ Berbasis Kolaborasi Multidisipliner
(YOGYAKARTA) – Sebuah langkah revolusioner dalam penanganan pasca-stroke lahir di jantung Kota Pelajar. Empat orang penyintas stroke di Yogyakarta bekerja sama dengan STIKES Bethesda Yakkum resmi meluncurkan program "Sekolah Stroke".
Program ini didedikasikan khusus bagi para penyintas, keluarga, serta caregiver (pendamping) untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Bertempat di Aula Jean Watson, STIKES Bethesda Yakkum, pertemuan perdana ini digelar pada Sabtu (7/3/2026) mulai pukul 09.00 WIB. Antusiasme peserta sangat luar biasa, terbukti dengan hadirnya perwakilan berbagai komunitas seperti Rabu Ceria Bethesda, Happy Embung Tambakboyo, Stroker Bahagia, PPSI, hingga peserta non-komunitas.
Bahkan, seorang peserta bernama Ibu Albertina Talubun jauh-jauh datang dari Timika, Papua, demi mengikuti program ini.
Ketua STIKES Bethesda Yakkum, Nurlia Ikanintyas, Ph.D., menjelaskan bahwa Sekolah Stroke ini mengusung tema WIRA (Wujudkan Impian Raih Asa). Program ini tidak hanya sekadar edukasi, melainkan sebuah pendekatan edukatif-rehabilitatif yang komprehensif.
"Kami mendesain kurikulum berbasis kolaborasi multidisipliner yang melibatkan perawat, fisioterapis, tenaga medis, hingga caregiver.
Tujuannya bukan hanya kesehatan fisik, tapi juga kemandirian ekonomi dan penguatan relasi sosial penyintas," ujar Nurlia dalam sambutannya.
Metode yang diterapkan meliputi:
• Edukasi Interaktif: Diskusi dua arah mengenai penanganan stroke.
• Evaluasi Klinis & Fungsional: Pemantauan kondisi fisik secara berkala.
• Terapi Aktivitas Kelompok (TAK): Pemulihan melalui kegiatan bersama.
• Pendampingan Caregiver: Memberikan bekal keterampilan bagi pendamping pasien.
Apresiasi Nasional: "Perang Semesta Melawan Stroke"
Ketua Yastroki DIY, Akhmad Risaf Iskandar, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada STIKES Bethesda Yakkum. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia.
"Ini adalah wujud nyata dari slogan Yastroki, yaitu Perang Semesta Melawan Stroke. Pendampingan total terhadap penyintas dan keluarga adalah kunci utama pemulihan," tegas Akhmad.
Rehabilitasi Mental: Bersyukur Tanpa Libur
Salah satu penggagas dari kalangan penyintas, Budi Hartono, menekankan pentingnya aspek mental dalam pemulihan. Menurutnya, penyintas stroke wajib menjalani empat pilar rehabilitasi: Mental, Fisik, Rohani, dan Ekonomi.
"Kita harus bisa menerima keadaan new normal ini agar harapan hidup muncul. Dengan menyadari ada kehidupan yang lebih baik di depan, kita akan semangat berlatih. Kuncinya adalah Bersyukur Tanpa Libur," ungkap Budi.
Ia pun berharap langkah STIKES Bethesda Yakkum ini menjadi pemantik bagi instansi pendidikan kesehatan, rumah sakit, dan Dinas Kesehatan lainnya di Indonesia untuk melakukan hal serupa.
Indikator Keberhasilan Sekolah Stroke:
• Peningkatan skor pengetahuan penyintas dan caregiver.
• Perbaikan atau stabilisasi status fungsional pasien.
• Partisipasi aktif dalam proses perawatan mandiri.
• Meningkatnya persepsi kualitas hidup para penyintas.(rsi)
0 Comment