Calon DPD RI Yashinta Sekarwangi Dorong UMKM Jogja Mendunia
Caption foto: Focus Group Discussion (FGD) 'Membangun Semangat Ekspor untuk Peningkatan Ekonomi Nasional' yang digelar BP Batam, di Sagan, Kota Yogya, Senin (9/10/23).
(YOGYAKARTA DIY) - Upaya menembus pasar Eropa, Amerika hingga Afrika terus dilakukan para pelaku usaha di tanah air. Salah satunya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di DI Yogyakarta yang menunjukkan potensi yang cukup signifikan.
Hanya saja, keberaniannya untuk ekspor, sekaligus menembus pasar global masih cenderung minim serta diperlukan dorongan dari banyak pihak.
Fenomena tersebut, turut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) 'Membangun Semangat Ekspor untuk Peningkatan Ekonomi Nasional' yang digelar BP Batam, di Sagan, Kota Yogya, Senin (9/10/23).
R.A. Yashinta Sekarwangi Mega, yang didapuk jadi salah satu pembicara, menandaskan, UMKM di Yogya terbukti muncul sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian masyarakat.
"Anak-anak muda di Yogyakarta ini kreatif. Jadi, ya, sayang banget kalau produk mereka hanya berkutat di level nasional saja," tandasnya.
Sehingga, calon anggota DPD RI dari daerah pemilihan (dapil) DIY tersebut menjadikan UMKM sebagai satu di antara beberapa fokusnya, seperti pendidikan, kesehatan dan lingkungan.
Pasalnya, ia menilai, para pelaku UMKM di Kota Pelajar bisa di-push lebih jauh, tidak sebatas para 'pemain' seniornya saja, tapi juga anak-anak muda yang terbilang belum lama berkecimpung.
"Jangan sekadar jualan dan dapat untung, karena mereka punya potensi yang lebih dan bisa menembus pasar global," ungkapnya.
Yashinta pun menjumpai langsung beberapa produk besutan UMKM asal Yogyakarta yang layak diekspor ke luar negeri, seperti batik tulis, hingga piring dan cangkir keramik dengan motif unik yang tidak dijumpainya di daerah lain.
Namun, kendalanya, sebagian besar pelaku UMKM saat ini belum melek dengan regulasi, seperti kewajiban sertifikasi dan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang sejatinya menghadirkan ragam kemudahan.
"UMKM banyak, tapi yang punya NIB baru 374 ribu, mereka rata-rata merasa belum penting untuk mengurus dan punya NIB," katanya.
"Sebagian besar itu karena takut perpajakan. Maka, ini butuh sosialisasi yang masif. Padahal, kan, yang penting terdaftar dulu," lanjut Yashinta.
Kepala Kantor Perwakilan BP Batam, Purnomo Andiantono, menyampaikan, kondisi Yogyakarta yang tidak memiliki pelabuhan tentu menjadi kendala bagi UMKM untuk melakukan aktivitas ekspor.
Karena itu, pihaknya pun siap memfasilitasi asosiasi atau komunitas UMKM di Yogyakarta, melalui sebuah gudang khusus yang disiapkan di Batam.
"Taruh gudang di Batam, kapanpun ada pesanan dari liar negeri, ya, tinggal kirim. Itu lebih efisien. Jadi, bisa sewa gudang untuk UMKM di DIY," ujarnya.
"Jualannya, kan, bisa lewat beragam platform. Misal yang beli orang China, dari Batam tinggal ke Singapura dan bisa ke seluruh dunia," urai Purnomo.
Terlebih, ia memandang, produk-produk UMKM di Yogyakarta, khususnya di sektor kerajinan, mempunyai kualitas mumpuni dan layak bersaing di pasar global.
Meski demikian, butuh keberanian dan keuletan, karena tingkat ekspor dari kalangan UMKM dewasa ini baru sekitar 6 persen di seantero tanah air.
"Makanya, ini kita dorong. Tadi, kan, Mbak Yashinta sudah bicara, selain menguasai pasar dalam negeri, harus berani keluar juga," ucapnya. (Raya Sanjiwani)
0 Comment